Kapuas, Infoinaja.id – Siapa yang tak kenal ikan betok atau papuyu?
Ikan endemik khas Kalimantan ini bukan hanya jadi lauk favorit masyarakat, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Dagingnya gurih, permintaannya stabil, dan hasil budidayanya pun menjanjikan keuntungan besar.
Melihat potensi tersebut, Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN Regional Office (RO) Banjarmasin kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui Mustahik Income Generating Program (MIGP).
Kali ini, program tersebut diwujudkan dalam bentuk budidaya ikan betok atau papuyu untuk Kelompok Mekar Bersama di Desa Anjir Serapat, Kecamatan Kapuas Timur, dan budidaya ikan gurami bagi Kelompok Karya Mukti di Desa Bangun Harjo, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, yang dilaunching pada Sabtu (08/11/2025).
Program MIGP menjadi langkah nyata yayasan dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Melalui program ini, lembaga tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menghadirkan pendampingan berkelanjutan agar warga penerima manfaat mampu mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
“Hari ini kami memberikan bantuan berupa kolam, bibit ikan, sampai pakan, serta pendamping yang akan mendampingi selama satu tahun program ini berjalan,” ujar Wakil Ketua YBM BRILiaN RO Banjarmasin, Deddy Irhandy.
Deddy menambahkan, tujuan utama program ini adalah menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di tengah tantangan ekonomi global.
Menurut Deddy, YBM BRILiaN RO Banjarmasin menjangkau wilayah Kalimantan Selatan, Barat, dan Utara, dengan fokus pada pengembangan potensi lokal. Ikan papuyu dan gurami dipilih karena merupakan komoditas endemik Kalimantan yang memiliki nilai jual tinggi dan disukai masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin masyarakat bisa mandiri dan tangguh secara ekonomi. Harapannya, mereka yang dulunya penerima zakat (mustahik) nantinya dapat berubah menjadi pemberi zakat (muzaki),” jelasnya.
Sementara itu, Fasilitator Bidang Ekonomi YBM BRILIAN RO Banjarmasin, Sugianoor, menuturkan bahwa selama dua bulan berjalan, perkembangan program menunjukkan hasil yang menggembirakan.
“Kondisi kolam dan pertumbuhan ikan sejauh ini sangat baik, baik untuk gurami maupun papuyu. Untuk papuyu, kami menggunakan bibit unggul jenis Bangkok, dengan total 17 ribu ekor yang ditebar di kolam seluas 15 x 25 meter,” ungkap Sugianoor.

Ikan-ikan tersebut diperkirakan dapat dipanen dalam waktu enam bulan, dengan ukuran 6–8 ekor per kilogram dan harga jual mencapai Rp70–80 ribu per kilogram. Selain pasar lokal, hasil budidaya juga berpotensi menembus pasar Kalimantan Timur, termasuk wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kami juga sudah memiliki beberapa channel pembeli yang siap menampung hasil panen ini. Harapannya, wilayah ini bisa menjadi percontohan bagi daerah lain, sehingga program serupa dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas,” tambahnya.
Kehadiran program MIGP budidaya ikan papuyu dan gurami ini tidak hanya membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga membawa semangat perubahan bagi masyarakat pesisir dan pedesaan.
Dengan dukungan pendampingan berkelanjutan dan semangat kemandirian, YBM BRILIAN berharap masyarakat bisa naik kelas dari penerima manfaat menjadi pelaku ekonomi produktif yang berdaya dan sejahtera.
(Kko).

Tinggalkan Balasan