INFOINAJA.ID, BANJARMASIN – Memperingati Bulan Kesadaran Kanker Paru 2025, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Kalimantan Selatan bersama Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Koordinator Kalsel, Rumah Sakit Amanah Medical Center, Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, serta RSUD Ulin Banjarmasin menggelar seminar awam mengenai deteksi dini kanker paru. Kegiatan ini bertujuan mendorong masyarakat mengenali gejala sejak awal, mengingat kanker paru masih menjadi penyebab kematian nomor tiga terbanyak di dunia.
Dalam seminar tersebut, para ahli menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak awal. Banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisinya sudah berat atau memasuki stadium lanjut. Minimnya pengetahuan dan rasa takut terhadap penyakit disebut menjadi penyebab keterlambatan deteksi.
Seminar bertema “Kenali Gejalanya, Bersama Lawan Kanker Paru” ini dilaksanakan pada Ahad (23/11/2025) di Aula Rumah Sakit Amanah Medical Center.
Dokter spesialis paru sekaligus ketua panitia kegiatan, dr. Haryati, menjelaskan bahwa edukasi publik harus terus digencarkan agar masyarakat lebih peka terhadap gejala awal kanker paru. Menurutnya, peluang keberhasilan pengobatan akan meningkat tajam bila penyakit terdeteksi pada tahap dini.
Beberapa gejala yang patut diwaspadai meliputi:
- Batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu
- Sesak napas
- Nyeri dada
- Penurunan nafsu makan
- Penurunan berat badan
- Keluhan lain akibat penyebaran kanker, seperti sakit kepala atau nyeri tulang
“Semakin cepat kanker paru diketahui, semakin besar peluang pasien untuk sembuh,” ujarnya.
Faktor risiko kanker paru dapat berasal dari berbagai hal. Yang pertama adalah faktor lingkungan, terutama paparan asap rokok. Risiko ini tidak hanya dialami oleh perokok aktif, tetapi juga perokok pasif yang terpajan asap rokok di sekitarnya.
Selain itu, paparan polutanbaik polutan dalam ruangan (indoor) maupun luar ruangan (outdoor) juga berperan dalam meningkatkan risiko kanker paru.
Faktor individu seperti riwayat genetik turut memberikan kontribusi. Seseorang yang memiliki anggota keluarga, baik orang tua maupun kakek-nenek, yang pernah menderita kanker memiliki risiko lebih tinggi. Riwayat penyakit paru sebelumnya juga dapat menjadi faktor yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kanker paru, tambah dr Haryati.
Sementara itu Ketua YKI Kalsel, Dr. dr. Ika Kustiyah Oktavianti menyebut, YKI merupakan organisasi nirlaba yang bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengenali gejala kanker sejak dini. Selain itu, YKI juga berupaya memotivasi masyarakat untuk melakukan skrining atau deteksi dini, sehingga kanker dapat ditemukan pada stadium awal.
Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak masyarakat tidak menyadari kondisi mereka sudah memasuki stadium lanjut. “Di rumah sakit, kita sering melihat pasien datang ketika kanker sudah menyebar ke banyak organ,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya edukasi agar masyarakat mengetahui gejala awal kanker, seperti yang juga dijelaskan dr. Haryati. Dengan memahami gejala tersebut, masyarakat dapat menilai apakah mereka perlu segera memeriksakan diri.
Namun, menurut dr. Ika, masih ada dua hambatan utama: ketidaktahuan dan rasa takut. Banyak masyarakat yang tidak memahami gejala kanker, sementara sebagian lainnya sebenarnya tahu, tetapi takut menjalani pemeriksaan.
“Sering kali baru ada benjolan sedikit saja sudah berpikir itu pasti kanker. Padahal tidak semua benjolan adalah kanker,” jelasnya. Ia menambahkan, meskipun benar terdeteksi kanker, bukan berarti tidak bisa diobati. “Banyak kok kasus kanker yang bisa diobati jika ditemukan sejak awal,” tegasnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan penyintas kanker paru, Ahmad Akbar Ramadhan, yang membagikan pengalamannya menjalani pengobatan. Sebelum dinyatakan menderita kanker paru, Akbar merupakan perokok aktif dan pengguna vape. Ia hanya mengalami batuk dan nyeri ringan, tetapi setelah berlangsung cukup lama ia memutuskan untuk memeriksakan diri—hingga akhirnya terdiagnosis kanker paru.
Meski masih dalam masa pemulihan, Akbar tetap bersemangat. Ia berharap kisahnya dapat menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak menyepelekan gejala kecil dan segera melakukan pemeriksaan.
(Kko)

Tinggalkan Balasan