INFOINAJA.ID, BANJARMASIN – Peran masjid di era modern kini semakin berkembang dan inklusif. Mengambil semangat dari zaman Rasulullah, Masjid Al-Muttaqin kini berkomitmen membuka pintunya seluas mungkin. Tidak sekadar menjadi tempat sujud, masjid ini diproyeksikan menjadi pusat kebudayaan, peribadatan, serta solusi bagi berbagai problematika masyarakat.
Ketua Masjid Al-Muttaqin, H. Taufik Hidayat, mengungkapkan bahwa transformasi ini adalah wujud komitmen pengurus untuk menghadirkan manfaat masjid yang bisa dirasakan langsung oleh umat dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita ingin memberikan satu contoh yang nyata bahwa masjid ini bukan sekadar masjid untuk beribadah. Jadi, semua kegiatan kita tampung di sini. Mau kegiatan sosial, keagamaan, hingga kegiatan pendidikan,” ujar H. Taufik Hidayat saat dijumpai di area masjid baru-baru ini.
Dalam bidang pendidikan, lanjut Taufik, pihak masjid telah menginisiasi program pembinaan khusus yang menyasar generasi muda. Salah satunya adalah pendidikan untuk mencetak Da’i sejak usia dini. Langkah ini diambil guna merespons minimnya regenerasi ulama di masyarakat.
“Dan di kita juga sudah ada pendidikan yang memang kita buka, seperti pendidikan Da’i. Karena kita menganggap banyak kekurangan kita dalam hal mencetak ulama-ulama yang dididik dari kecil. Terus kita juga membuka pendidikan bahasa Arab. Kenapa? Karena mereka perlu dibekali dengan bahasa Arab,” jelasnya.

Kiprah Masjid Al-Muttaqin tidak berhenti pada ranah pendidikan. Di bidang sosial, masjid ini secara proaktif menyalurkan dana amanah dari para donatur untuk membantu jemaah, salah satunya melalui program Makan Bersama Gratis (MBG).
“Alhamdulillah, kita bisa memberikan kesempatan bagi hamba-hamba Allah untuk bisa datang ke sini dengan kegiatan sosial. Contohnya, ada donatur yang bisa kita manfaatkan dananya untuk kegiatan seperti MBG, bahkan jemaah bisa makan gratis,” tutur Taufik.
Ia berharap, inisiatif berbagi makanan ini bisa menginspirasi tempat ibadah lainnya. “Ini menjadi satu contoh yang kami kira mudah-mudahan masjid-masjid lain bisa melaksanakan hal serupa. Karena memang kegiatan seperti itu sangat diperlukan sekali oleh umat,” tambahnya.
Sebuah terobosan menarik lainnya adalah dibukanya layanan konsultasi publik di area masjid. Taufik menjelaskan bahwa umat seringkali bingung mencari tempat untuk mengadu. Oleh karena itu, masjid hadir sebagai ruang penyelesaian masalah.
“Tentu di ruang masjid ini kami juga membuka konsultasi. Apakah itu mengenai hukum, mengenai waris, mengenai kejiwaan (kesehatan mental), hingga konsultasi bisnis kalau perlu. Dan itu kita buka untuk umum,” terangnya.
Menutup perbincangannya, H. Taufik menegaskan bahwa pintu Masjid Al-Muttaqin selalu terbuka bagi siapa saja, baik yang ingin beribadah, berkonsultasi, maupun memberikan saran dan kritik kepada pengurus. Ia juga mengajak para dermawan untuk tidak ragu menyalurkan infak dan sedekahnya melalui masjid.
“Jadi boleh siapa saja datang ke sini, kita terbuka. Pengurus siap menerima saran dan masukan, bahkan kritikan apapun. Kami juga berharap kepada para umat yang diberikan kelebihan harta, silakan (berdonasi). Kami akan pertanggungjawabkan dunia akhirat, bahwa apa yang beliau berikan itu akan tetap kita kembalikan kepada umat yang membutuhkan,” pungkas Taufik dengan penuh optimisme.

Tinggalkan Balasan