INFOINAJA.ID, BANJARMASIN Dalam tradisi masyarakat muslim, khususnya bagi urang Banjar yang kental dengan identitas religius, sehelai kain sarung memiliki makna yang jauh melebihi sekadar penutup aurat. Ia adalah kawan setia dalam setiap sujud ibadah, pelengkap wibawa saat bersilaturahmi, hingga wujud ketulusan ketika dijadikan buah tangan untuk sanak saudara di hari kemenangan.

Ikatan kultural yang begitu erat inilah yang membuat eksistensi sarung tak pernah tergeser oleh tren pakaian modern mana pun. Kini, seiring semakin dekatnya gema takbir Idul Fitri 1447 Hijriah, geliat perburuan kain sarung pun mulai meroket tajam. Salah satu episentrum keramaian itu terlihat jelas di pusat perbelanjaan legendaris Kalimantan Selatan, Pasar Sudimampir.

Ribuan helai kain sarung berpindah tangan setiap jamnya di pasar ini. Puncaknya terjadi dalam sepekan terakhir. Di agen grosir Bintang Mas, gelombang pembeli melonjak drastis tepat setelah Tunjangan Hari Raya (THR) cair ke tangan masyarakat.

Pemilik Toko Bintang Mas, Alex Yusuf Sutanto, menuturkan bahwa permintaan memang sedang meroket tajam. Meski demikian, pihaknya menjamin ketersediaan stok aman hingga hari raya tiba.

“Kami melakukan sistem ‘kejar tayang’ untuk pengiriman lewat jalur laut, demi memastikan warga tetap bisa mengenakan sarung baru dan perlengkapan salat lainnya seperti sajadah dan mukena di hari nan fitri,” ungkap Alex saat ditemui Sabtu (13/03/2026).

Owner Toko Bintang Mas Alex saat melayani pembeli

Di tengah pilihan yang berjajar, sarung bermotif kembang dan corak khas Borneo rupanya menjadi primadona yang paling diburu warga tahun ini. Nama-nama besar seperti Gajah Duduk hingga Wadimor kini berlomba menyuguhkan nuansa lokal Nusantara ke dalam helai kain sarung mereka.

Menurut Alex, sarung bercorak lokal ini sangat diminati karena harganya yang sangat terjangkau, yakni di kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000.

“Meski harganya ramah di kantong, sentuhan estetikanya tetap memancarkan kesan mewah. Siapa pun yang mengenakannya bisa tampil percaya diri tanpa harus menguras dompet,” tambahnya.

Namun, bagi pembeli yang mengutamakan prestise dan kualitas kelas wahid, Toko Bintang Mas juga menyediakan koleksi sarung premium. Salah satunya adalah merek legendaris BHS yang kerap menjadi simbol kemewahan di hari raya. Tak tanggung-tanggung, sarung eksklusif ini dibanderol mulai dari Rp330.000 hingga menembus angka Rp5 juta per lembarnya.

Di tengah hiruk-pikuk pengunjung toko, tampak sosok Haji Tajeri bersama sang istri yang sedang sibuk memilih perlengkapan salat kualitas premium ini. Legislator asal Muara Teweh yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Gerindra Barito Utara tersebut mengaku sudah menjadi pelanggan tetap Toko Bintang Mas setiap tahunnya untuk berburu sarung berkualitas.

Bagi Haji Tajeri, berbagi adalah bentuk syukur atas rezeki yang ia terima. Ribuan sarung ini disiapkan khusus sebagai bagian dari zakat dan buah tangan bagi masyarakat di daerahnya.

“Selain paket sembako, sarung ini untuk dibagikan ke masyarakat,” ujarnya.

Ia pun tampak semringah lantaran Alex, sang pemilik toko yang juga merupakan putra daerah, tak segan memberikan diskon khusus untuk borongan sarung BHS miliknya.

Pada akhirnya, entah memilih sarung bermotif lokal yang ekonomis atau sarung premium yang prestisius, esensi dari perayaan Idul Fitri tetaplah sama: kemenangan yang dirayakan dengan keikhlasan dan hati yang bersih.