INFOINAJA.ID, BANJARMASIN – Suasana Ramadan 1447 Hijriah tahun ini terasa jauh lebih istimewa bagi keluarga besar Rumah Tahfiz Azzahra Banjarmasin. Sebanyak 57 anak yang terdiri dari 24 santri dan 33 santriwati angkatan IV, sukses mengikuti prosesi wisuda tahfiz Al-Qur’an.
Acara penuh khidmat ini dilangsungkan di Gedung KAHMI Kalsel, Jalan Pramuka, Banjarmasin, pada Sabtu (14/3/2026), Jelang waktu berbuka puasa.
Pimpinan Rumah Tahfiz Azzahra, Drs. H. Saleh Yusran, mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian para santri. Meski demikian, ia mengingatkan agar para wisudawan tidak cepat berpuas diri.
“Alhamdulillah, yang wisuda hari ini sebanyak 57 orang. Kami berpesan kepada santri, jangan puas dengan apa yang dicapai hari ini karena perjalanan masih panjang. Hari ini ada yang baru hafal 1 Juz, 10 juz, ada yang 12 juz. Jadi, untuk mencapai target 30 juz, mereka harus terus berjuang,” ungkap sosok yang juga dikenal sebagai Qari Nasional tersebut.
Dalam momen penuh haru tersebut, H. Saleh Yusran tampak didampingi secara langsung oleh pengasuh sekaligus pengelola Rumah Tahfiz Azzahra, H. Ramadansyah.
Kehadiran H. Ramadansyah menjadi fondasi kuat bagi lembaga pendidikan ini. Pasalnya, ia adalah sosok penting yang selama 12 tahun terakhir tak kenal lelah memberikan dukungan penuh baik moril maupun materil, agar roda pendidikan di Rumah Tahfiz Azzahra terus berputar mencetak para generasi Qur’ani.
Berkat kolaborasi solid ini, H. Saleh Yusran mengakui bahwa meski pada angkatan ini belum ada santri yang menyentuh hafalan 30 juz, namun ia berani memastikan seluruh santri yang diwisuda memiliki kualitas hafalan yang mutqin (kuat dan lancar).
Sebelum diwisuda, para santri telah melewati tahapan munaqasyah (ujian evaluasi hafalan) yang sangat ketat. “Kami memang lebih mengutamakan kualitas dibandingkan sekadar kuantitas,” terangnya.
Melihat antusiasme masyarakat dan kebutuhan para santri yang kian meningkat, pengurus Rumah Tahfiz Azzahra kini tengah mematangkan rencana besar selanjutnya, yakni membangun Pondok Pesantren Tahfiz Al-Qur’an yang dilengkapi dengan fasilitas asrama.
Rencana ini lahir dari sebuah kendala di lapangan. Selama ini, banyak santri yang terpaksa berhenti menghafal di Rumah Tahfiz Azzahra setelah mereka lulus sekolah formal. Ketiadaan asrama membuat para santri harus pindah dan melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren lain, sehingga hafalan mereka di Azzahra terhenti.
“Kami sangat berkeinginan membangun Ponpes. Saat ini tanahnya sebenarnya sudah ada, tinggal proses pembangunannya saja yang belum. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar niat ini segera terwujud, sehingga anak-anak bisa menuntaskan hafalannya di Pondok Pesantren Azzahra Banjarmasin,” harap H. Saleh.
Niat mulia untuk membangun pesantren ini mendapat dukungan penuh dari TGH Muhammad Rasyid Ridha, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin, Gambut. Ulama kharismatik ini menilai, kehadiran pondok pesantren sangat krusial sebagai benteng pelindung generasi muda dari gerusan pergaulan bebas.
“Ulun sangat mendukung kehadiran Ponpes Azzahra ini. Realitas pergaulan di lapangan saat ini sangatlah sulit. Dukung buhan pian, dukung anak-anaknya untuk belajar Al-Qur’an. Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an, kata Nabi Muhammad SAW,” tutur TGH Rasyid Ridha.
Ia pun menitipkan pesan dan harapan mendalam bagi para orang tua. Menurutnya, apapun profesi anak-anak kelak di masa depan, bekal Al-Qur’an di dalam dada adalah hal yang paling utama.
“Harapan kita seberataan (semuanya), tidak ada jaminan kelak anak ini harus jadi ustaz. Dengan berbagai macam profesi nantinya, yang terpenting mereka punya bekal Al-Qur’an dalam dirinya. Ayo, jika kita ingin anak kita menjadi orang yang lebih baik, jangan pernah berhenti mendoakan mereka,” tutupnya.
(Kko)

Tinggalkan Balasan