INFOINAJA.ID, BANJARMASIN — Pendidikan di bangku sekolah sejatinya tak melulu berkutat pada diktat pelajaran dan nilai akademis di atas kertas. Di SMA Negeri 5 Banjarmasin, pendidikan karakter justru ditanamkan lewat harmoni gerak dan lenggok indah tarian tradisional.

Kecintaan terhadap budaya bangsa ini terekam jelas dalam sebuah pentas seni meriah bertajuk “Swarakala” (Swara Ragam Karya Lestari Budaya Indonesia) yang digelar pada Selasa (26/5/2026). Dalam balutan aneka ragam busana adat yang memanjakan mata, para siswa unjuk kebolehan membawakan ragam tarian dari berbagai penjuru provinsi di Indonesia.

Kepala SMAN 5 Banjarmasin, Drs. H. Mukhlis Takwin, S.H., M.H. menuturkan bahwa acara ini merupakan agenda rutin sekolah yang lahir dari manisnya kolaborasi antara program Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan guru mata pelajaran Seni Budaya.

Kepala SMAN 5 Banjarmasin Drs. H. Mukhlis Takwin, S.H., M.H. saat memberikan sambutan

“Bagi siswa kelas XI, ajang ini adalah bentuk penilaian khusus. Jadi, mereka tidak hanya dijejali teori di dalam kelas, tetapi juga langsung mempraktikkannya di atas panggung,” jelas Muklis.

Pentas seni Swarakala ini dikemas dengan skala yang cukup masif. Setiap kelas dibagi ke dalam dua kelompok, sehingga secara total ada 22 tarian asal berbagai daerah di Indonesia yang dipentaskan. Para guru seni sebelumnya telah memberikan pemahaman teori mengenai kekayaan budaya Nusantara, lalu membebaskan para siswa memilih dan mengeksplorasi ragam tari yang ingin mereka bawakan.

Namun, di balik indahnya koreografi yang disajikan, ada misi mendalam yang ingin dicapai pihak sekolah: pembentukan karakter.

Muklis memaparkan bahwa arah pendidikan modern tak lagi sekadar mengejar kepintaran akademis. Melalui seni tari, ada banyak nilai kehidupan yang diam-diam dipupuk oleh para siswa.

“Dalam tari ini, luar biasa karakter yang bisa dipupuk. Pertama, tentu saja kedisiplinan. Sebelum tampil, mereka harus disiplin berlatih. Kedua, kolaborasi dan kerja sama untuk menata gerak yang indah. Ketiga, tanggung jawab pada posisi masing-masing. Dan yang terakhir, belajar taat pada instruksi pemimpin tarian,” ungkapnya.

Bukan tanpa alasan sekolah sangat menekankan pendidikan karakter ini. Menurut Muklis, banyak penelitian membuktikan bahwa faktor utama penentu kesuksesan seseorang di masa depan bukanlah peringkat akademik semata, melainkan kedisiplinan dan tanggung jawab.

“Jadi, melalui seni tari ini saja, sebenarnya separuh karakter penentu kesuksesan itu sudah berhasil mereka dapatkan,” tambahnya sambil tersenyum.

Melalui gelaran Swarakala, SMAN 5 Banjarmasin menaruh harapan besar agar generasi muda tak lagi memandang seni tari tradisional dengan sebelah mata. Di tengah gempuran tren dan budaya asing, mahakarya Nusantara ini diharapkan mampu menjadi jangkar agar para siswa tetap berpijak pada identitas bangsanya.

“Kita ingin menunjukkan bahwa keindahan budaya Indonesia itu luar biasa. Harapannya, siswa-siswi kita tidak mudah silau oleh budaya luar negeri, serta mampu menumbuhkan rasa cinta dan bangga yang nyata pada Indonesia,” tutup Muklis.

(Kko)