INFOINAJA.ID, BANJARMASIN – Menghadapi masa puncak bonus demografi Indonesia pada 2030-2035, Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin mengambil langkah strategis untuk mengentaskan pengangguran dan membentengi masyarakat dari jebakan migrasi non-prosedural.

Direktur UT Banjarmasin, Mochamad Priono, menegaskan komitmennya untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan siap bersaing di pasar kerja global. Hal ini disampaikannya saat ditemui di ruang kerjanya di Jl. Sultan Adam, Banjarmasin, Rabu (24/6/2026).

Pernyataan ini merupakan tindak lanjut dari Kuliah Umum bertajuk “Migrasi Aman dan Peluang Kerja di Luar Negeri” yang dihadiri langsung oleh Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Drs. H. Mukhtarudin, pada Selasa lalu.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI) per 21 Juni 2026, terdapat 311.073 lowongan kerja di luar negeri. Lowongan ini didominasi oleh sektor domestik, manufaktur, dan kesehatan di negara-negara seperti Taiwan, Malaysia, dan Hongkong.

Selain itu, pemerintah juga tengah mempersiapkan 500.000 tenaga kerja secara bertahap (2026-2029) untuk sektor-sektor strategis seperti Caregiver, Welder, Hospitality, Nurse, hingga Truck Driver.
Sayangnya, dari kebutuhan ratusan ribu pekerja tersebut, baru sekitar 25% yang terserap. “Artinya masih ada 75% kuota kosong yang membutuhkan pekerja-pekerja baru. Ini kesempatan yang sangat baik untuk dimanfaatkan oleh para alumni kita,” ujar Priono.

UT saat ini telah menjalin Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kementerian P2MI. MoU ini berjalan dalam dua arah yaitu Peningkatan Kualifikasi Migran: UT saat ini memfasilitasi sekitar 8.000 pekerja migran Indonesia yang tersebar di 46 negara untuk menempuh pendidikan sarjana secara jarak jauh dan Penyaluran Alumni ke Luar Negeri: UT menjadi satu dari 8 Perguruan Tinggi di Indonesia yang ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan alumninya ke pasar kerja internasional.

“Alumni UT saat ini sekitar 80% sudah bekerja, dan 20% belum bekerja. Harapannya, 20% alumni yang belum bekerja ini bisa memanfaatkan peluang di luar negeri,” tambah Priono.

Untuk merealisasikan target tersebut, UT Banjarmasin tengah memetakan kebutuhan industri global dengan kualifikasi alumni. Beberapa keterampilan utama yang disiapkan antara lain:
* Kemampuan Bahasa: Bahasa Inggris menjadi syarat mutlak, ditambah bahasa negara tujuan (seperti Korea, Jepang, atau Jerman).
* Literasi Digital: Keterampilan menggunakan teknologi digital yang sudah menjadi makanan sehari-hari mahasiswa UT.
* Soft Skill & Kesiapan Psikologis: Pelatihan adaptasi budaya agar alumni siap secara mental menghadapi lingkungan kerja yang berbeda.

Priono memastikan bahwa jalur pengiriman tenaga kerja ini sangat aman karena difasilitasi penuh oleh negara melalui skema G to G (Government to Government). Aspek keimigrasian dan dokumen persyaratan akan dibimbing langsung oleh kementerian terkait.

Dalam kesempatan tersebut, Priono juga menyoroti rendahnya angka anak muda di luar Pulau Jawa yang bekerja di luar negeri secara resmi. Hingga Juni 2026, tercatat hanya 81 anak muda dari luar Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara yang berangkat.

“Pak Menteri sangat berharap anak-anak muda kita di Kalimantan Selatan berani mencoba. Gajinya pasti lebih besar dan menggunakan standar Dolar. Mari pantau terus Instagram UT dan Kementerian P2MI untuk mendapatkan update informasi peluang ini,” tutup Priono.

(Wfi)