INFOINAJA.ID, BANJARMASIN – Suasana sahur di Siring Menara Pandang pada Rabu (18/3) terasa berbeda dan sarat makna. Wali Kota Banjarmasin, H. Muhammad Yamin HR, memilih cara yang tak biasa untuk menyapa warganya. Ia menggelar sahur bersama di atas perahu tradisional kelotok, membaur hangat dengan para paman kelotok dan acil (ibu-ibu) Pasar Wadai. Menariknya, momen santai ini juga menjadi wadah diskusi interaktif membahas isu krusial kota, khususnya mengenai pengelolaan sampah.

Momentum sahur di atas aliran sungai ini dimanfaatkan Yamin untuk membangun kedekatan emosional sekaligus menyerap aspirasi langsung dari akar rumput.

“Kita ingin kebersamaan ini bukan sekadar duduk makan sahur, tapi jadi ruang silaturahmi dan belajar. Ulun banyak belajar dari acil Pasar Wadai dan paman kelotok tentang kehidupan dan ekonomi rakyat,” ujar Yamin di sela-sela kegiatan.

Ubah Pola Pikir: Sampah Bernilai Ekonomi

Di tengah suasana sederhana dan akrab tersebut, Yamin menyoroti persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama di Banjarmasin. Ia menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan harus dimulai dari kesadaran setiap individu.

“Sampah itu ada nilainya. Jangan lagi dianggap sesuatu yang harus dibuang begitu saja. Kita harus pilah dari rumah, kurangi penggunaan plastik, dan mulai mengolahnya. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data terbaru, volume sampah organik di Banjarmasin mulai menunjukkan tren penurunan. Namun, Yamin mengakui upaya tersebut belum merata. Di satu sisi, komunitas penggiat lingkungan sudah bergerak aktif menjadi motor perubahan, namun di sisi lain masih banyak warga yang belum konsisten memilah sampah.

“Di sinilah tantangannya. Kita punya peluang besar karena sampah bisa bernilai ekonomi. Tapi kalau kita lengah, dampaknya akan langsung terasa ke lingkungan dan kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Lebih jauh, Wali Kota juga memaparkan visi pengelolaan sampah yang lebih modern ke depannya, termasuk rencana konversi sampah menjadi energi listrik (waste-to-energy). Tidak hanya itu, ia juga melontarkan gagasan visioner mengenai transisi menuju kelotok bertenaga listrik.

“Hari ini mungkin masih terdengar seperti angan-angan, tapi ke depan kita harus berani beralih. Dunia sudah menuju ke sana, dan kita tidak boleh tertinggal,” katanya optimis.

Pesan untuk Pelaku Pariwisata Lokal

Dalam konteks pariwisata, Yamin memberikan apresiasi tinggi kepada para paman kelotok dan acil Pasar Wadai. Mereka dinilai bukan hanya sebagai penggerak ekonomi kerakyatan, tetapi juga wajah pariwisata Banjarmasin di mata wisatawan.

Ia berpesan agar kualitas pelayanan dan kejujuran harga selalu dijaga untuk meningkatkan kepercayaan pelancong. “Jaga nama baik kota. Kalau pelayanan baik dan harganya jelas, orang pasti akan datang lagi,” pesannya.

Kegiatan sahur bersama ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin, Ibnu Sabil beserta jajaran, serta perwakilan Forum Komunikasi Mahasiswa Banjarmasin yang sebelumnya juga sempat berdialog langsung dengan Wali Kota.

Menutup pertemuan menjelang imsak tersebut, Yamin kembali menekankan pentingnya kolaborasi aktif dari warga dalam mengawal setiap kebijakan pemerintah. “Jangan segan memberi masukan. Kita ingin Banjarmasin maju karena keterlibatan semua pihak, terutama dalam menyelesaikan persoalan sampah,” pungkasnya.

(Kko/Rilis)