INFOINAJA.ID, BANJARMASIN Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang berkualitas dan peka terhadap lingkungan sekitar. Melalui Organisasi Mahasiswa (Ormawa), UT Banjarmasin menggelar kegiatan “Forum Kritis Mahasiswa” dengan tema Banua Belajar, Banua Berdaya, Kamis (4/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Tutorial lantai 2 UT Banjarmasin ini secara khusus menyoroti persoalan pendidikan anak di Banua, mulai dari kendala ekonomi keluarga, tingginya angka pernikahan dini, dorongan untuk bekerja di usia muda, hingga keterbatasan infrastruktur.

Direktur UT Banjarmasin Ir. Mochamad Priono, M.Si., menyampaikan, kegiatan ini merupakan implementasi dari kebijakan Rektor UT yang mendorong peningkatan kegiatan kemahasiswaan di daerah. Kegiatan ini juga masuk dalam indikator kinerja program strategis universitas.

Direktur UT Banjarmasin Ir. Mochamad Priono, M.Si ketika memberikan sambutan dan membuka acara.

“Di dalam forum ini kita memberikan soft skill atau keterampilan bagaimana mahasiswa mampu berpikir kritis, sistematis, menganalisis, dan membuat solusi terhadap persoalan di wilayahnya. Kita ingin mahasiswa UT saat lulus nanti tidak sekadar bisa berpendapat, tapi mampu menyampaikan argumen yang berbasis data,” ujar perwakilan UT Banjarmasin.

Antusiasme mahasiswa mengikuti forum ini terbilang sangat tinggi. Peserta tidak hanya datang dari kawasan Banjarmasin dan sekitarnya, tetapi juga dari Kotabaru, hingga provinsi tetangga seperti Muara Teweh dan Kapuas (Kalimantan Tengah). Selain itu, kegiatan ini juga difasilitasi secara daring melalui Zoom.

Forum diskusi ini menjadi semakin berbobot dengan hadirnya Guru Besar Universitas Terbuka, Prof. Dr. M. Gorky Sembiring, M.Sc., sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah sebuah keharusan bagi mahasiswa di abad ke-21.

“Tugas utama mahasiswa memang belajar, namun di zaman sekarang hal itu tidak cukup. Di era abad 21, kemampuan berpikir kritis adalah keharusan karena pemecahan masalah hanya bisa dilakukan jika kita punya kapasitas tersebut. Berpikir kritis akan melahirkan kreativitas, dan kreativitas memungkinkan seseorang berkomunikasi dalam sebuah kolaborasi,” papar Prof. Gorky.

Mengingat karakteristik mahasiswa UT yang didominasi oleh pekerja, Prof. Gorky berharap pelatihan selama lima jam tersebut dapat langsung diaplikasikan oleh para peserta. Kemampuan ini dinilai tidak hanya berguna untuk menunjang penyelesaian studi akademik seperti penyusunan skripsi, tetapi juga menjadi nilai tambah yang unik saat mereka mengabdi di dunia kerja dan masyarakat.

(Wafi)