INFOINAJA.ID, BANJARBARU – Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang bagi Calon Jemaah Haji (CJH) asal Kota Banjarmasin untuk memenuhi panggilan ke Tanah Suci. Meski harus menggunakan kursi roda dan berangkat seorang diri, semangat untuk beribadah justru kian kuat menjelang keberangkatan haji tahun 2026.

Hal itu terlihat saat puncak Manasik Haji Mandiri Kota Banjarmasin yang digelar di Asrama Haji Banjarbaru, Sabtu (31/1/2026). Di tengah ratusan jemaah, tampak sejumlah CJH lansia dan disabilitas tetap mengikuti seluruh rangkaian manasik dengan penuh kesungguhan.

Salah satunya adalah Titin Haryati, warga Pekapuran Raya, Kota Banjarmasin. Meski harus beraktivitas menggunakan kursi roda, Titin tetap mengikuti puncak manasik haji mandiri sebagai bentuk kesiapan dirinya sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Perempuan ini mengaku tak gentar meski harus menjalani ibadah haji tanpa pendamping keluarga. Dengan bantuan petugas maupun jasa pendorong, ia optimistis mampu melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji.

“Penantian hampir 15 tahun akhirnya akan terwujud. Saya ingin menjalani ibadah ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Titin dengan mata berkaca-kaca.

Kisah serupa juga dialami Rahmi, CJH lainnya yang harus menggantikan orang tuanya yang telah wafat. Rahmi juga akan mendampingi sang ayah yang menggunakan kursi roda, baik saat manasik maupun pelaksanaan ibadah haji nanti.

Menurut Rahmi, seluruh persiapan telah dilakukan, mulai dari administrasi hingga kesiapan mental. Saat ini, ia hanya tinggal menunggu proses vaksinasi dan terus menjaga kondisi fisik menjelang keberangkatan.

Rahmi saat mendampingi Ayahnya dalam kegiatan manasik haji

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Banjarmasin, Ahmad Sya’rani, mengatakan bahwa jemaah lansia dan disabilitas memang wajib mendapatkan pendamping. Selain itu, mereka juga diperbolehkan menggunakan jasa pendorong demi kenyamanan dan keselamatan selama beribadah.

“Kami ingin memastikan seluruh jemaah, termasuk lansia dan disabilitas, dapat menjalankan ibadah haji dengan aman, nyaman, dan tetap khusyuk,” ujarnya.

Ia menegaskan, meski memiliki keterbatasan fisik, nilai-nilai spiritual dan kekhusyukan ibadah tetap menjadi hal utama dalam pelaksanaan haji.

Dengan segala keterbatasan yang ada, semangat para calon jemaah haji asal Banjarmasin ini menjadi bukti bahwa panggilan ke Baitullah tak pernah mengenal batas usia maupun kondisi fisik. Niat yang tulus dan tekad yang kuat menjadi langkah utama menuju haji yang mabrur.

(Zyyn)