INFOINAJA.ID, BANJAR Belum sah rasanya menginjakkan kaki di Bumi Lambung Mangkurat jika tak menyapa eksotisme Pasar Terapung Lok Baintan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Ikon pariwisata yang tak lekang oleh waktu ini selalu punya cara untuk memikat hati siapa saja yang datang, tak terkecuali bagi rombongan Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah.

Selasa pagi (31/3/2026), semburat matahari pagi menyambut kedatangan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes. Bersama Ketua PP ‘Aisyiyah Koordinator Majelis PAUD Dikdasmen, Dr. Rohimi Zamzam, S.Psi., S.H., M.Pd., Psikolog, serta jajaran Pimpinan Wilayah (PW) Kalsel dan Pimpinan Daerah (PD) Kota Banjarmasin, rombongan menyusuri sungai menggunakan kelotok (perahu bermesin).

Belum lama kelotok bersandar di area pasar, rombongan langsung disambut riuh ramah para acil-acil (sebutan untuk ibu-ibu pedagang khas Banjar) yang lincah mengayuh jukung (perahu kecil) mereka. Antusiasme Salmah memuncak hingga ia tak ragu untuk turun langsung dan merasakan sensasi bergoyang di atas perahu kecil milik salah satu pedagang.

Di tengah perahu yang berayun, Salmah mendapatkan sebuah pengalaman emosional yang tak terduga. Bukan sekadar transaksi jual beli biasa, ia justru belajar tentang indahnya solidaritas antar-pedagang sungai.

“Masyaallah, ini pengalaman yang luar biasa. Begitu saya naik perahu, saya ditawari oleh salah seorang penjual. Dia bilang, ‘Ibu, kalau Ibu mau membeli tidak untuk diri sendiri, makanannya akan saya bagi kepada seluruh penjual di sini,'” cerita Salmah dengan mata berbinar.

Ketum PP Aisyiyah saat menaiki perahu pedagang pasar terapung lok baintan

Awalnya, Salmah mengira para pedagang tersebut tidak lagi membutuhkan makanan yang mereka jual sehari-hari. Namun, tebakannya keliru. Tawaran sederhana itu menunjukkan betapa para acil sangat menghargai rezeki yang dibagi rata.

“Ternyata mereka sangat senang dan masih sangat membutuhkan. Jadi, saya dengan senang hati berbagi kepada mereka,” ucapnya sembari tersenyum hangat memamerkan ragam hasil bumi dan kuliner lokal yang baru saja ia borong.

Kejutan manis dari Lok Baintan rupanya belum berakhir. Sebagai tokoh perempuan yang kerap menggaungkan visi “Perempuan Berkemajuan”, Salmah dibuat takjub oleh adaptasi teknologi para acil-acil pasar terapung ini.

Saat hendak membayar, Salmah sempat kebingungan karena kebiasaannya yang jarang membawa uang tunai (cash). Tak disangka, solusi datang dari lisan sang pedagang tradisional.

“Kemudian yang bikin saya terkejut adalah mereka ini sangat berkemajuan. Membayarnya tidak harus pakai uang cash. Mereka bilang, ‘Nggak apa-apa Ibu, pakai QRIS saja.’ Bayangkan, di tengah sungai ada QRIS!” ungkapnya takjub.

Bagi Salmah, fenomena ini adalah sebuah lompatan literasi digital yang patut disyukuri dan diapresiasi. “Ini alhamdulillah sekali, saya sangat bersyukur mereka sudah melek digital. Jadi ini sudah bagus sekali,” tambahnya.

Melihat potensi dan semangat para perempuan tangguh di atas perahu tersebut, insting pemberdayaan Salmah langsung terpanggil. Ia melihat ada ruang besar bagi ‘Aisyiyah untuk hadir dan berkontribusi secara nyata di Lok Baintan.

“Kalau ‘Aisyiyah kemudian bisa hadir memberikan pelatihan-pelatihan kepada ibu-ibu ini—untuk meningkatkan kapasitas UMKM dan literasi digital mereka menjadi lebih baik lagi—ini akan menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat. ‘Aisyiyah benar-benar bisa hadir mendampingi di situ,” pungkasnya penuh harap.

Kunjungan pagi itu pun ditutup dengan tawa renyah, lambaian tangan para acil, dan sebersit harapan baru untuk memberdayakan denyut nadi ekonomi perempuan di atas sungai Barito.

(Zyyn)